Akhirnya rindu itupun tertumpahkan
juga, ketika ku kembali bertemu dengan bidadariku tersayang,
Reine.Lucu, imut, manis dan semakin proaktif saja.
Ketika
ku baru saja turun dari motor, tampak kedua matanya memandangku
sejenak. Mungkin dia mulai lupa denganku kali, karena sudah hampir 3
pekan aku tak mengunjunginya. Setelah sadar siapa diriku, dia lalu
berlari kearahku dan menabrak kakiku. Tampak dia begitu manja ingin
dipeluk oleh diriku dan dipeluk mesra.
Ah,
rindu itupun tersampaikan juga. Erat sekali pegangannya saat kupeluk
diriku.Kucium dia dengan kehangatan. Dan kubelai dirinya.Walau lebih
berisi tubuhnya dan telah mencapai 12 kg kata mantan istriku, namun
semua itu tak terasa sama sekali. Hanya kebahagiaan dan keceriaan yang
kurasakan saat bersamanya.
Hari-hari
bersama reine tak kusia-siakan sama sekali. Aku berjalan sama dia,
bercanda, membacakannya buku, hingga jalan-jalan ke alfamart walau
hanya sekedar membeli sari kacang hijau kesukaannya.
Namun
ada dua kejadian yang membuatku semakin sayang kepadanya. Ketika ku
sedang merapihkan buku, tampak dia melambaikan tangannya seolah memberi
tanda bahwa dia ingin pergi. Lalu dia melambaikan tangannya dan pergi
ke kamar uminya. Namun tiba-tiba dia berlari ke arahku dan memeluk
diriku.
Ooh,
reiene, saat itu aku tak bisa berkata-kata lagi melihat pola tingkahmu
itu. Pura-pura pergi, walaupun sebenarnya dirimu merindukan diriku. Tak
terasa pipiku terasa hangat dibasahi air mata kasih sayang ku untuk
reine. Lucu dan menggemaskan.
Buya
menyayangimu sayang, walau buya tak bisa lagi bersama dirimu lagi.
Maafkan keegoisan buya karena tidak bisa bersanding dengan ummu azka
lagi.Namun buya akan senantiasa menjenguk dirimu. Walau hanya dua atau
tiga pekan sekali buya baru hadir.
Karena kesibukanku mencari sesuap nasi dan untuk membelikan susu reine, kini ku bekerja hampir setiap hari hingga larut malam. Maklumlah, statusku yang hanya lulusan SMU, membuat diriku harus menjadi lebih tegar menghadapi kehidupan sebagai wiraswasta.
Oleh
karena itu, saat-saat berjumpa engan reine merupakan saat-saat yang
sangat bernilai. Hingga sore haripun aku masih bermain dan tertawa
bersama reine. Sambil kugendong, tangannya memegang roti tawar dan
memotong-motong sedikit demi sedikit dimasukkan ke dalam mulutnya.
Namun
ada yg membuatku terharu saat itu, ketika dia menyuapi roti ke dalam
mulutku setiap selesai menyuapi roti ke mulutnya sendiri. Tidak ada
keegoisannya untuk menikmati roti miliknya sendiri. Duh baiknya
anandaku ini.
Dan sungguh terharu lagi ketika langkah kakiku
mendekat kepada kucing kecil yang mengeong, ternyata bukan saja aku
yang disuapi, tapi kucing kecil itupun juga diberikan roti oleh reine.
Seolah ia ingin berbagi roti kepada kucing kecil itu. Karena ku tahu
kucing tidak suka roti, ku tambahkan ke kucing itu secuil potongan ikan
kecil.
Sebuah sindiran telak kepada diriku. Ternyata teguran
untuk berbagi datang dari reine, anakku yang usianya barulah setahun
setengah. Tak ada kekecewaan karena rotinya habis ketika berbagi dengan
diriku ataupun dengan si kucing kecil. Namun diriku. Betapa sering
kuhabiskan sendiri harta yang kudapat dari bekerja, dengan sering
melupakan bahwa di balik harta yang kumiliki terdapat hak untuk mereka
yang dhuafa. Ada hak untuk mereka yang berjuang di jalan Allah. Betapa
egoisnya diriku selama ini.
Malas
sedekah dan malas berinfaq. Bahkan ketika setiap pekanan diminta
menginfakkan sebagian rizki tuk palestina, agak berat diriku untuk
menyisihkannya.
Ya Allah semoga dengan teguran melalui bidadari kecilku ini, membuat hamba menjadi orang yang bersyukur, bersabar dan berinfaq
"Dan
bersegeralah kamu mencari ampunan dari TUhanmu dan mendapatkan surga
yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang
yang bertaqwa, Yaitu orang yang berinfaq di waktu lapang maupun sempit,
dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan oranglain. Dan
Allah mencintai orang yang berbuat kebaikan"
Salam
Agus Setiawan
ivan Alnu
listant@gmail.com
mbisnisglobal.blogspot.com