Archive for March, 2008

Jiwa kepemimpinan kita

Thursday, March 20th, 2008

Mungkin buat beberapa orang menjadi seorang pemimpin adalah sebuah hal yang biasa. Memimpin sebuah barisan perang ataukah menjadi pemimpin keluarga. Satu hal yang sama dari pemimpin adalah mereka akan dipertanggungjawabkan akan kepemimpinannya.

Saya jadi teringat dengan kejadian semalam ketika menjadi imam/pemimpin dalam sholat berjamaah. Ini bukan pertama kali saya menjadi imam dalam shalat berjamaah sebenarnya. Namun ada hal yang berbeda ketika saya menjadi imam dari orang-orang yang lebih soleh dari saya dan lebih banyak hafalan qurannya dari saya. Mereka meminta saya menjadi imam, karena mereka menganggap saya lebih mature dari mereka, saya sendiri ga tahu apakah ini termasuk alasan seseorang ditunjuk menjadi imam  atau tidak. Karena no choice akhirnya saya menerima permintaan kawan-kawan saya tersebut.

Dan pengalaman ini juga pernah terjadi ketika saya menjadi imam dalam shalat isya berjamaah di mesjid UI depok beberapa tahun silam. Walau pada awalnya menolak, namun karena bozz besar sendiri yang meminta maka saya memenuhi permintaan beliau.

Dari kedua solat berjamaah yang saya pimpin tersebut memang terasa sekali perbedaannya dibandingkan saya menjadi imam di mushola tempat saya tinggal ataupun dalam kajian-kajian di tempat lain. Karena saya tak bisa menahan keringat dingin yang keluar dari tubuh saya lantaran grogi abiz menjadi imam dari mereka yang lebih expert dari pada saya.

Makanya saya sangat salut sekali dengan Usamah bin Zaid yang masih muda dan belia namun telah menjadi mas’ul panglima perang dan membawahi para ahlul badar (veteran perang badar) yang sudah tidak disangsikan lagi kemampuannya. Skill leadershipnya yang luar biasa menunjukkan bahwa USamah memang pemimpin yang luar biasa karena tentunya Muhammad SAW tak akan sembarang memilih orang untuk menjadi panglima perang bukan.

Lalu bagaimana dengan saya, bagaimana dengan anda? apakah mampu jika harus memimpin barisan yang lebih senior dan lebih expert daripada kita? Jawabannya adalah IYA jika kita mau maka kita bisa. Tinggal kita mengasah kembali skill kita yang telah terlupa, itu saja

TETAP SEMANGAT MENGHADAPI KEHIDUPAN, NIKMATI TANTANGAN , HADAPI KEHIDUPAN DUNIA DENGAN SENYUMAN (KEEP IN SMILE FACING YOUR LIFE)

Apa jadinya laki-laki jika tidak ada wanita

Wednesday, March 19th, 2008

dalam suatu seminar tentang feminisme,
seorang Pembicara yang kebetulan
terkenal feminis abis berbicara dengan
lantang, kemudian berkata

"Betapa hebatnya wanita dibandingkan
para pria, wanita bisa bekerja seperti
kaum pria tapi pria tidak bisa
melahirkan seperti wanita, Makanya kami
menginginkan persamaan hak diseluruh
bidang. Coba anda bayangkan apa jadinya
laki-laki jika tidak ada wanita"

semua terdiam baik peserta laki-laki
maupun peserta wanita

Namun tiba-tiba seorang pria berdiri
kemudian teriak

"Pastinya, jika tidak ada wanita di
dunia, ADAM MASIH BERADA DI SURGA"

——————-
ivan alnu
pembelajar dan pemikir
http://itan.blogspot.com

Balapan Vs Bisnis

Sunday, March 16th, 2008

Vega

Baru saja ada pengalaman menarik yaitu seperti biasa saya tergoda untuk balapan lagi dengan motor lain di rawamangun. Namun yang menarik bukanlah saya berhasil mengalahkan lawan-lawan saya yang lebih hebat dari saya semata, namun tercetus dalam fikiran saya kolerasi antara Balapan saya dengan Bisnis yang saya geluti

Dari prapatan mega rawamangun saya melihat ada jupi MX dan supra125 yg lagi balapan. Ntah kenapa naluri lama saya keluar lagi nih, dan akhirnya ku putuskan untuk ikut balapan.

Sebenarnya gila juga yang saya lakukan, karena saya hanya mengandalkan motor vega105cc. Namun dengan sedikit pengalaman saya menjadi joki dulu, saya berhasil mendahului  kedua motor itu di lampu merah pramuka ketika berbelok ke arah rawasari.

Weks ternyata tujuan kedua motor itu sama dengan saya menuju ke arah priok. Saya tahu kalo geber sekeras apapun pasti kalah sama MX, namun karena didukung dengan jalanan berlobang dan macet akhirnya bisa juga mengalahkan MX dan supra 125 sampai  menjelang pintu tol rawasari karena saya memutuskan mengambil jalur lambat, sedangkan kedua motor itu asyik balapan di jalur cepat.

Karena berhasil mengalahkan mereka saya teringat dengan bisnis saya. Ternyata untuk berhasil dalam bisnis, kita perlu dan harus lincah seperti seorang joki mengendarai motor. Karena sang pengendara motor/joki balapan sangat mengerti kapan dia harus mengambil keputusan dalam bertindak, singkatnya begini:

1) Ketika saya di jalur cepat, saya menggunakan kecepatan semaksimum mungkin, begitu juga dalam berbisnis ketika peluang terbuka lebar maka itu merupakan kesempatan yang baik untuk meleverage bisnis semaksimal mungkin.

2) Ketika saya menemui lubang, saya harus mengurangi kecepatan dan menghindari lubang secepat mungkin. Begitu juga dalam bisnis ketika kita menghadapi lubang dalam berbisnis, mungkin kita harus mengurangi keaktifan kita sesaat untuk dapat menghindari lubang dengan sigap dan agar tidak terjadi "kecelakaan" karena nekat menabrak lobang yang berakibat fatal.

3)Ketika saya menemui macetnya jalanan,saya harus sigap melihat peluang celah sempit manakah yang bisa diambil agar motor saya bisa melaju tanpa harus menciderai kendaraan orang lain. Dalam bisnis berlaku seperti itu juga ternyata menurut saya, sebagai seorang pengusaha insting kita merupakan modal utama, karena akan membantu menuntun kita mencari celah-celah dan peluang-peluang kecil yang menghasilkan sesuatu yang besar. Jika kita tidak cermat maka lewatlah kita karena selain menciderai orang lain namun juga bisa menciderai kita sendiri.

4) Saya harus tahu kapan saya menggunakan gas semaksimal mungkin dan kapan saya harus menginjak rem, kapan saya harus memainkan gigi agar perjalanan saya bisa sesingkat mungkin dan selamat sampai tujuan. Begitu juga dengan bisnis, seorang pengusaha harus mampu mengontrol dirinya untuk dapat cepat bertindak dalam berbisnis, dan mengetahi kapan dia harus melakukan percepatan, namun selain itu seorang pengusaha tetap membutuhkan perlambatan dan rem agar tidak terjadi kecelakaan dan bisnisnya maju berkembang serta meminimalisir kerugian yang ada.

5) Ketika saya memutuskan untuk balapan dengan supraX125 dan jupiMX adalah suatu hal yang gila karena kecepatan motor mereka jauh di atas motor yang saya kendarai, namun karena saya memiliki skill joki dimasa lalu ternyata bukan masalah yang harus dipermasalahkan toh buktinya saya bisa mengalahkan mereka hehehe. Begitu juga dengan bisnis, terkadang kita butuh sebuah kenekatan dalam berbisnis, namun bukan nekat begitu saja. Melainkan, sebuah kenekatan yang diiringi dengan modal keyakinan dan kemampuan yang kita miliki walaupun kita tidak memiliki kemampuan finansial setidaknya kemampuan dibidang yang lain tetap diperlukan untuk menunjang keberhasilan bisnis kita. Selain itu hiraukan perasaan ciut karena lawan yang lebih besar dari kita. Karena lawan kita sesungguhnya bukanlah kompetitor kita melainkan diri kita sendiri. Jika kita bisa lebih baik dari hari kemarin maka kita adalah the winner, Jika kita bisa sama saja dengan hari kemarin maka kita adalah  save seeker, Jika kita ternyata lebih buruk dari hari kemarin maka sebuah petaka telah terjadi karena kita adalah seorang the looser. So keep in spirit in your business OK.

Mungkin demikian dulu nih tulisan dari ivan, mohon maaf yah kalo agak aneh nih opini ivan.

Salam Semangat Penuh Senyuman
Keep in smile facing the world

Ivan Alnu

Hadapi dengan Senyum

Friday, March 14th, 2008

Hadapi Dengan Senyum - Dewa

hadapi dengan senyumanSmile
semua yang terjadi biar terjadi
hadapi dengan tenang jiwa
semua kan baik-baik saja

bila ketetapan Tuhan
sudah ditetapkan, tetaplah sudah
tak ada yang bisa merubah
dan takkan bisa berubah

relakanlah saja ini
bahwa semua yang terbaik
terbaik untuk kita semua
menyerahlah untuk menang

Antara Exonomi dan Executif(Oleh-oleh Pulang Kampung)

Wednesday, March 12th, 2008

Aku melihat ada banyak perbedaan
yang luar biasa antara naik kereta ekonomi dan eksekutif. Bukan hanya karena
harga tiketnya semata ataupun karena fasilitas yang diberikan oleh PTKAI kepada para penumpang masing-masing kelas
kereta tersebut, namun juga karena dari karakteristik penumpang serta perasaan
hati yang terasa ketika menaiki kedua jenis kereta tersebut.

 

Hal ini terasakan pada hari senin
sore tatkala ku merasa jenuh dengan aktifitas di

Jakarta. Ditambah lagi dengan ketegangan
menjelang sidang perceraianku hari kamis ini. Akhirnya ku putuskan untuk pulang
kampong saja ke Madiun naik kereta ekonomi, alas an utamanya adalah karena
untuk penghematan keuangan tentunya.

 

Walaupun mendapatkan tiket
berdiri sungguh tidak menyurutkan langkah kaki ku untuk tetap pergi ke Madiun.
Namun memang kekecewaan demi kekecewaan mulai ku rasakan ketika ku naik kereta
Ekonomi.

 

Betapa tidak, aku yang naik
kereta dengan resmi dan memiliki karcis hanya berpasrah ria berdiri atau
berjongkok saja. Sedangkan di tengah-tengah kulihat sekelompok bapak-bapak dan
ibu-ibu dari departemen X yang memang terbiasa numpang kereta ekonomi seperti
ini sampai Bekasi atau Cikampek dengan menyetor kepada kondektur Rp 3000 -
Rp5000 asyik duduk kebagian bangku dan berdiskusi dengan kawan-kawannya.
Nasib-nasib kalo jadi orang baik dan beli tiket resmi. Kalo bisa dikatakan saat
itu saya sangat-sangat sakit hati sekali, betapa tidak mereka yang punya tiket
resmi seperti aku(tiketnya 50rb man) harus puas berdiri sedangkan mereka yang
nyetor malah asyik-asyikan duduk dengan enaknya. Is it Fear??? Tampaknya pihak
PT KAI pun seolah menutup mata melihat kasus yang sudah mengakar ini.

 

Ditambah lagi di tengah padatnya
kereta ekonomi yang sangat-sangat ngepres ini dan membuat badan langsing, para
pedagang asongan juga tak kalah adu body dengan penumpang untuk bisa nyelap
nyelip asalkan barangnya bisa dijajakan dari gerbong depan hingga gerbong
belakang.

 

Setelah menunggu 2 jam akhirnya
aku kebagian duduk ketika ada seorang lelaki yang turun di stasiun cikampek,
itupun dia ga punya tiket resmi. Hanya salam tempel dengan pak kondektur
cukuplah masalah kelar bebas perkara. Sayangnya dudukku ini hanya terasakan
sepuluh menit saja kurasakan ketika datang rombongan keluarga yang membawa
tiket resmi dengan no bangku yang menandakan itu hak-nya. Akhirnya akupun
kembali berdiri.

 

Barulah setelah setengah jam
kemudian ketika ku bergerak ke tengah aku mendapatkan kursi yang kosong, dan
bisa duduk dengan tenang di gerbong ekonomi yang terkenal rawan copet ini.
Walau dah duduk dengan tenang namun diriku masih juga tidak merasa nyaman,
karena tentara di depanku, para penumpang di kanan kiriku pada asyik merokok
dan membuat kabut di gerbong. Tampaknya mereka sama sekali cuek walaupun diriku
terbatuk-batuk dan bahkan kepada anak mereka sendiri yang masih orok gitu loh.
Beruntung aku ga sampe asmanya kambuh cuma sesek nafas doing. Kalo kambuh bisa
berabe soale aku ga bawa ventolin inhaler nih.

 

Harus ku akui, mereka yang naik
kereta ekonomi seperti ini memang dari
kalangan menengah kebawah yang terkenal cuek dengan kenyamanan yang penting
bisa nyampe itu sudah cukup.

 

Diriku sih sebenarnya oke-oke
saja dengan kondisi seperti ini. Namun dengan kejadian banyaknya yang bayar diatas itu terkadang memang ada
kefikiran seperti saat masih muda, naek kereta kagak bayar, atau bayar diatas. But if I do like that,
lalu di mana harga diri coba??? Dzolim lagi sama PTKAI. Duh kalo gini caranya
malah dizolimi oleh oknum dari PT.KAI.

 

Makanya ketika pulang dari Madiun
di hari selasanya aku naik kereta eksekutif walau sebenarnya aku dah mau pulang
dengan kereta ekonomi karena duit di kantong pas cuma buat naek kereta ekonomi.
Mungkin inilah kehendak dari Allah kali yah, ketika sampai stasiun ku tanya ke
petugas KA, ternyata kereta ekonomi ke

Jakarta

sudah ga ada karena aku datangnya telat. So mau ga mau kutelpon temen ku di

Jakarta

untuk segera
mentransfer duit ke BCA ku segera untuk dapat beli tiket. Setelah berjuang
dengan berjalan kaki 6 km mencari ATM BCA, akhirnya dapat juga tiket ke

Jakarta

dengan kereta BIMA
(BIru MAlam, karena interiornya biru banget).

 

Awalnya agak aneh aja, wong
perjaka kere seperti aku ini kok naeknya kereta eksekutif. Blagu banget yah.
Mana harga tiketnya 4X tiket kereta ekonomi lagi. Wah boncos nih, nawaitu untuk
menghemat cost selama Madiun gagal.

 

Setelah aku naik kereta ini,
jujur banget, walau ini bukan pertama kali aku naik BIMA namun ada nuansa
ketika aku masuk kedalam kereta. Pramugarinya sopan menyapa ku ketika ku naik,
walau mukaku lecek banget.

Para

penumpang yang
ada di first class train ini pun juga tidak sebrutal yang ada di kereta
ekonomi, walaupun mereka lebih cuex dan ga peduli dengan penumpang yang duduk
disebelahnya. Setidaknya aku bener-bener merasa nyaman.

 

Sepanjang naik kereta api, baru
kali ini aku enjoy banget. Kebetulan kursi disampingku kosong jadi ku merapat
ke jendela sambil membaca bukunya mas Trumph dan mas Kiyosaki,” Why We Want You
to be Rich” Soale pas di kereta ekonomi aku ga bisa baca buku ini dengan khusuk
karena terganggu dengan asap rokok, sampai mataku merah dan ga bisa tidur.
Malah di kereta BIMA ini aku bisa tidur dengan nyenyak walau Cuma 3 jam (lah
emang aku kalo tidur sehari 3 atau 4 jam
kok cuma sih).

 

Jujur setelah naik kereta BIMA,
tak lagi ada perasaan menyesal dengan harga tiket yang muahal itu. Karena yang
aku dapatkan jauh lebih banyak daripada aku naik kereta ekonomi atau bisnis
sekalipun. Selain ramah, aku perhatikan walau para penumpang kereta BIMA adalah
kalangan menengah ke atas malah aku melihat para penumpangnya pada rajin solat
subuh, fenomena yang jarang aku temui kalo naek kereta bisnis sekalipun. Bahkan
pernah ketika aku naek kereta dan tayamum karena ku tahu kalo naek kereta
ekonomi ga ada air di toilet kemudian solat subuh di kereta orang-orang melihatku dengan bengong dan
bertanya kepadaku, mas lagi ngapain sih tadi???? Lucunya yang nanya ke aku itu
make peci dan istrinya berjilbab lagi. Waks. Shalat subuh pak, Pas aku tanya
balik, Bapak sudah solat? Dia Cuma menggeleng kepala dan berkata ga ada air nang
mo wudu aja susah di sini empet-empetan, mending ntar aja di qodo di rumah ????
(dalam hatiku emang ada yah solat di qodo? Kalo puasa mungkin bisa tapi kalo
solat paling juga di jama’ tapi kalo subuh jama’nya sama apa dunk)

 

Ya begitulah pengalamanku pulang
kampuang ke Madiun naik kereta api…tut.tut.tut siapa hendak turun… ke

Bandung

Surabaya

……………….

Rumahku dalam Google Earth

Friday, March 7th, 2008

Dari Angkasa Inilah Bumi kita
Home7

Indonesia
Home6

Pulau Jawa
Home5

Jabotabek
Home4

Jakarta
Home3

Tanjung Priok
Home2

Sunter Rumahku tercinta
Home1

ITULAH LOKASI RUMAHKU TERCINTA : Jl Ancol Selatan I/54

Ketika hati menyatu

Saturday, March 1st, 2008

Pernahkah anda merasa ada getaran hati menyatu dengan orang lain? getaran arti disini maksudnya, ketika anda memiliki perasaan rindu dengan seseorang kawan dengan tiba-tiba ternyata kawan anda pun merasakan hal yang sama dengan anda, dan uniknya tanpa ada komando anda dan kawan anda bertemu di suatu tempat seketika itu juga.

Aneh kah?
tapi itu yang terjadi pada diriku tadi pagi. Ketika shalat subuh berjamaah aku rindu dengan Akhi Tono teman DPRa yang hampir setengah tahun tidak bertemu. Dulu ketika kami berdua masih bujang, kami selalu ketemu pada waktu subuh berjamaah. Namun kini akh tono sudah pindah ke rumah mertuanya dan aku sendiri baru kembali ke Sunter setelah kasus ku dengan ex wife pada bulan Desember/Januari (Nov -Jan aku ngekost di Rawamangun soale)

Shalat subuh tadi pagi, seperti biasa dapat shaf pertama tepat di belakang Mas Dayat sang imam. Setelah zikir sejenak, aku pindah ke barisan belakang shaf pria sambil nyender di tiang meneruskan membaca almatsurat, ga disangka tiba-tiba mataku tertuju kepada barisan kiri shaft ketiga dan ternyata akh Tono ada disana, begitu juga dengan beliau tiba-tiba dia melihat ke arahku sambil tersenyum.

Wah luar biasa, kerinduan yang luar biasa ketemu saudara seiman yang tak lama bersua. Tapi kok bisa yah seperti di sinetron, seolah hati kami beresonansi. Bahagia banget rasanya, setelah itu kami ngobrol2 sejenak dan kemudian sharing tentang keadaan hizb saat ini di Sunter. Karena dah mau kerja, akh tono pun pamit.

Kasus seperti ini bukan yang pertama yang kualami. Pernah ketika 5 tahun yang lalu di tahun 2003 akhir dimana suasana kepartaian dah terasa di kampungku Madiun. Aku berkenalan dengan seorang ikhwa bernama Pak Pardi. KEtemu dengan beliau juga cukup unik. Karena walau diriku dengan pakaian "preman" tanpa jenggot kumisan iya, tapi entah kenapa dia bisa langsung menebak aku ini juga ikhwah seperti beliau. Awalnya sih aku cuma melihat beliau memasang bendera Pekase di Pasar Candi,  namun ternyata ketika aku asik melihat beliau tiba-tiba matanya juga langsung menatapku dan langsung menghampiriku dan berkata
, " Apa kabar akh, antum dari Jakarta yah????"
weks. Gubrak, langsung ditembak. Gimana kabar jakarta, antum kader juga kan??? wah terpesona dan sebenarnya ingin ngakak ketawa .. karena walaupun aku kader tapi kayaknya aku kagak meng-ikhwah banget deh. Akhirnya aku diajak sama beliau silaturahim ke tokonya maklum beliau ini tukang jahit. Diskusi sama Pak Pardi luar biasa. Walau baru pertama kali ketemu tapi seolah-olah kami berdua adalah saudara lama yang tidak pernah bertemu. Cepat sekali kami akrab.
Sampai ga enak hati, aku sampai disediakan makanan  siang gratis yang lengkap sekali saat itu. Alhamdulillah beliau juga mengantarku sampe rumah mbah mi walausebenarnya jarak antara rumahku ke rumah mbah mi itu tinggal  2 km sih.

kalo kata temenku fenomena ini disebut LOA (Law of Attraction) bener ga sih?? Tapi yang pastinya rasa seperti ini bisa ada ketika ukhuwah ada di dalam diri dan kesamaan tujuan hidup kami adalah untuk mengemban risalah Ilahi melalui sebuah Harakah Islamiyah yang sama. Aku mencintaimu karena Allah wahai para saudaraku. Oleh karena itu marilah kita bersama-sama hidup hanyalah untuk dan karena Allah semata. Keep istiqomah till end of our life.