Antara Exonomi dan Executif(Oleh-oleh Pulang Kampung)

Aku melihat ada banyak perbedaan
yang luar biasa antara naik kereta ekonomi dan eksekutif. Bukan hanya karena
harga tiketnya semata ataupun karena fasilitas yang diberikan oleh PTKAI kepada para penumpang masing-masing kelas
kereta tersebut, namun juga karena dari karakteristik penumpang serta perasaan
hati yang terasa ketika menaiki kedua jenis kereta tersebut.

 

Hal ini terasakan pada hari senin
sore tatkala ku merasa jenuh dengan aktifitas di

Jakarta. Ditambah lagi dengan ketegangan
menjelang sidang perceraianku hari kamis ini. Akhirnya ku putuskan untuk pulang
kampong saja ke Madiun naik kereta ekonomi, alas an utamanya adalah karena
untuk penghematan keuangan tentunya.

 

Walaupun mendapatkan tiket
berdiri sungguh tidak menyurutkan langkah kaki ku untuk tetap pergi ke Madiun.
Namun memang kekecewaan demi kekecewaan mulai ku rasakan ketika ku naik kereta
Ekonomi.

 

Betapa tidak, aku yang naik
kereta dengan resmi dan memiliki karcis hanya berpasrah ria berdiri atau
berjongkok saja. Sedangkan di tengah-tengah kulihat sekelompok bapak-bapak dan
ibu-ibu dari departemen X yang memang terbiasa numpang kereta ekonomi seperti
ini sampai Bekasi atau Cikampek dengan menyetor kepada kondektur Rp 3000 -
Rp5000 asyik duduk kebagian bangku dan berdiskusi dengan kawan-kawannya.
Nasib-nasib kalo jadi orang baik dan beli tiket resmi. Kalo bisa dikatakan saat
itu saya sangat-sangat sakit hati sekali, betapa tidak mereka yang punya tiket
resmi seperti aku(tiketnya 50rb man) harus puas berdiri sedangkan mereka yang
nyetor malah asyik-asyikan duduk dengan enaknya. Is it Fear??? Tampaknya pihak
PT KAI pun seolah menutup mata melihat kasus yang sudah mengakar ini.

 

Ditambah lagi di tengah padatnya
kereta ekonomi yang sangat-sangat ngepres ini dan membuat badan langsing, para
pedagang asongan juga tak kalah adu body dengan penumpang untuk bisa nyelap
nyelip asalkan barangnya bisa dijajakan dari gerbong depan hingga gerbong
belakang.

 

Setelah menunggu 2 jam akhirnya
aku kebagian duduk ketika ada seorang lelaki yang turun di stasiun cikampek,
itupun dia ga punya tiket resmi. Hanya salam tempel dengan pak kondektur
cukuplah masalah kelar bebas perkara. Sayangnya dudukku ini hanya terasakan
sepuluh menit saja kurasakan ketika datang rombongan keluarga yang membawa
tiket resmi dengan no bangku yang menandakan itu hak-nya. Akhirnya akupun
kembali berdiri.

 

Barulah setelah setengah jam
kemudian ketika ku bergerak ke tengah aku mendapatkan kursi yang kosong, dan
bisa duduk dengan tenang di gerbong ekonomi yang terkenal rawan copet ini.
Walau dah duduk dengan tenang namun diriku masih juga tidak merasa nyaman,
karena tentara di depanku, para penumpang di kanan kiriku pada asyik merokok
dan membuat kabut di gerbong. Tampaknya mereka sama sekali cuek walaupun diriku
terbatuk-batuk dan bahkan kepada anak mereka sendiri yang masih orok gitu loh.
Beruntung aku ga sampe asmanya kambuh cuma sesek nafas doing. Kalo kambuh bisa
berabe soale aku ga bawa ventolin inhaler nih.

 

Harus ku akui, mereka yang naik
kereta ekonomi seperti ini memang dari
kalangan menengah kebawah yang terkenal cuek dengan kenyamanan yang penting
bisa nyampe itu sudah cukup.

 

Diriku sih sebenarnya oke-oke
saja dengan kondisi seperti ini. Namun dengan kejadian banyaknya yang bayar diatas itu terkadang memang ada
kefikiran seperti saat masih muda, naek kereta kagak bayar, atau bayar diatas. But if I do like that,
lalu di mana harga diri coba??? Dzolim lagi sama PTKAI. Duh kalo gini caranya
malah dizolimi oleh oknum dari PT.KAI.

 

Makanya ketika pulang dari Madiun
di hari selasanya aku naik kereta eksekutif walau sebenarnya aku dah mau pulang
dengan kereta ekonomi karena duit di kantong pas cuma buat naek kereta ekonomi.
Mungkin inilah kehendak dari Allah kali yah, ketika sampai stasiun ku tanya ke
petugas KA, ternyata kereta ekonomi ke

Jakarta

sudah ga ada karena aku datangnya telat. So mau ga mau kutelpon temen ku di

Jakarta

untuk segera
mentransfer duit ke BCA ku segera untuk dapat beli tiket. Setelah berjuang
dengan berjalan kaki 6 km mencari ATM BCA, akhirnya dapat juga tiket ke

Jakarta

dengan kereta BIMA
(BIru MAlam, karena interiornya biru banget).

 

Awalnya agak aneh aja, wong
perjaka kere seperti aku ini kok naeknya kereta eksekutif. Blagu banget yah.
Mana harga tiketnya 4X tiket kereta ekonomi lagi. Wah boncos nih, nawaitu untuk
menghemat cost selama Madiun gagal.

 

Setelah aku naik kereta ini,
jujur banget, walau ini bukan pertama kali aku naik BIMA namun ada nuansa
ketika aku masuk kedalam kereta. Pramugarinya sopan menyapa ku ketika ku naik,
walau mukaku lecek banget.

Para

penumpang yang
ada di first class train ini pun juga tidak sebrutal yang ada di kereta
ekonomi, walaupun mereka lebih cuex dan ga peduli dengan penumpang yang duduk
disebelahnya. Setidaknya aku bener-bener merasa nyaman.

 

Sepanjang naik kereta api, baru
kali ini aku enjoy banget. Kebetulan kursi disampingku kosong jadi ku merapat
ke jendela sambil membaca bukunya mas Trumph dan mas Kiyosaki,” Why We Want You
to be Rich” Soale pas di kereta ekonomi aku ga bisa baca buku ini dengan khusuk
karena terganggu dengan asap rokok, sampai mataku merah dan ga bisa tidur.
Malah di kereta BIMA ini aku bisa tidur dengan nyenyak walau Cuma 3 jam (lah
emang aku kalo tidur sehari 3 atau 4 jam
kok cuma sih).

 

Jujur setelah naik kereta BIMA,
tak lagi ada perasaan menyesal dengan harga tiket yang muahal itu. Karena yang
aku dapatkan jauh lebih banyak daripada aku naik kereta ekonomi atau bisnis
sekalipun. Selain ramah, aku perhatikan walau para penumpang kereta BIMA adalah
kalangan menengah ke atas malah aku melihat para penumpangnya pada rajin solat
subuh, fenomena yang jarang aku temui kalo naek kereta bisnis sekalipun. Bahkan
pernah ketika aku naek kereta dan tayamum karena ku tahu kalo naek kereta
ekonomi ga ada air di toilet kemudian solat subuh di kereta orang-orang melihatku dengan bengong dan
bertanya kepadaku, mas lagi ngapain sih tadi???? Lucunya yang nanya ke aku itu
make peci dan istrinya berjilbab lagi. Waks. Shalat subuh pak, Pas aku tanya
balik, Bapak sudah solat? Dia Cuma menggeleng kepala dan berkata ga ada air nang
mo wudu aja susah di sini empet-empetan, mending ntar aja di qodo di rumah ????
(dalam hatiku emang ada yah solat di qodo? Kalo puasa mungkin bisa tapi kalo
solat paling juga di jama’ tapi kalo subuh jama’nya sama apa dunk)

 

Ya begitulah pengalamanku pulang
kampuang ke Madiun naik kereta api…tut.tut.tut siapa hendak turun… ke

Bandung

Surabaya

……………….

Leave a Reply