Jiwa kepemimpinan kita
Mungkin buat beberapa orang menjadi seorang pemimpin adalah sebuah hal yang biasa. Memimpin sebuah barisan perang ataukah menjadi pemimpin keluarga. Satu hal yang sama dari pemimpin adalah mereka akan dipertanggungjawabkan akan kepemimpinannya.
Saya jadi teringat dengan kejadian semalam ketika menjadi imam/pemimpin dalam sholat berjamaah. Ini bukan pertama kali saya menjadi imam dalam shalat berjamaah sebenarnya. Namun ada hal yang berbeda ketika saya menjadi imam dari orang-orang yang lebih soleh dari saya dan lebih banyak hafalan qurannya dari saya. Mereka meminta saya menjadi imam, karena mereka menganggap saya lebih mature dari mereka, saya sendiri ga tahu apakah ini termasuk alasan seseorang ditunjuk menjadi imam atau tidak. Karena no choice akhirnya saya menerima permintaan kawan-kawan saya tersebut.
Dan pengalaman ini juga pernah terjadi ketika saya menjadi imam dalam shalat isya berjamaah di mesjid UI depok beberapa tahun silam. Walau pada awalnya menolak, namun karena bozz besar sendiri yang meminta maka saya memenuhi permintaan beliau.
Dari kedua solat berjamaah yang saya pimpin tersebut memang terasa sekali perbedaannya dibandingkan saya menjadi imam di mushola tempat saya tinggal ataupun dalam kajian-kajian di tempat lain. Karena saya tak bisa menahan keringat dingin yang keluar dari tubuh saya lantaran grogi abiz menjadi imam dari mereka yang lebih expert dari pada saya.
Makanya saya sangat salut sekali dengan Usamah bin Zaid yang masih muda dan belia namun telah menjadi mas’ul panglima perang dan membawahi para ahlul badar (veteran perang badar) yang sudah tidak disangsikan lagi kemampuannya. Skill leadershipnya yang luar biasa menunjukkan bahwa USamah memang pemimpin yang luar biasa karena tentunya Muhammad SAW tak akan sembarang memilih orang untuk menjadi panglima perang bukan.
Lalu bagaimana dengan saya, bagaimana dengan anda? apakah mampu jika harus memimpin barisan yang lebih senior dan lebih expert daripada kita? Jawabannya adalah IYA jika kita mau maka kita bisa. Tinggal kita mengasah kembali skill kita yang telah terlupa, itu saja
TETAP SEMANGAT MENGHADAPI KEHIDUPAN, NIKMATI TANTANGAN , HADAPI KEHIDUPAN DUNIA DENGAN SENYUMAN (KEEP IN SMILE FACING YOUR LIFE)